Seperti hidup yang memutar nasibku pada rodanya
Demikianlah aku menari cinta di panggung sajak
Tak selalu puitis, sesekali tersaji rujak kata-kata
Dengan sambal yang nyaris hambar, tak menggertak
Biar penyair menggonggong, puisiku tetap berlalu
Sebab puisiku adalah aku, kemauanku, perasaanku
Sedangkan label yang banyak didengungkan hanyalah persepsi
Selera perut yang tak bisa semua kuwakili
Puisiku hanya sebuah cemas akan ketidakpedulian
Pada kesenjangan yang mengasingkan
Jiwa-jiwa dalam keramaian
Dengan makna seadanya, semampunya.
(20 Desember 2007)
Jumat, September 05, 2008
Penyair Menggonggong, Puisiku Tetap Berlalu
Langgan:
Poskan Komentar (Atom)
0 komentar:
Poskan Komentar