Ia tutup wajahnya dengan casing paling redam. Sebab di rumah itu handphone dilarang berisik.
Ia ketar-ketir sendiri di saku celana. Kekasihnya pun demikian di saku yang lain. Ia rebah memeluk sunyi dan cemas. Jangan-jangan kekasih memanggil. Jangan sampai ada yang memanggil.
Ketika ada yang coba memanggilnya. Tubuhnya geletar seperti kesurupan. Menahan suara yang tertahan di ujung bibir. Diintipnya lewat tirai jendela. Terlihatlah wajah asing wajah private. Maka dia biarkan dirinya geletar. Hingga panggilan itu mati ditelan bosan.
Ketika ada yang memanggil lagi. Ia tak perlu mengintip. Ia sudah kenal gaya dan nada sapanya. Maka ia hanya kirim sebuah pesan. ‘Maaf saya sedang sunyi. Cobalah beberapa saat lagi.’
(17 Sep 2008)
Rabu, September 17, 2008
Handphone (yang Sunyi)
Langgan:
Poskan Komentar (Atom)
0 komentar:
Poskan Komentar