dia duduk sendiri di balkon rindu
taman sudah lelap sedari tadi
kipas malam kian deras menuang sepi
ke dalam nafas kompor
yang tinggal sekepul di dalam hati
serusuk cemas
menancap di terminal dadanya
setiap kali kereta waktu
menghimpitkan dua jarumnya
malam menggelinding
bagai sebuah kaleng
mendendangkan rahasia perjalanan
seolah semua tingkap telah terjamah
lalu dia sibak langit
bulan warna jeruk masai
menatap kosong di atas kepala
seperti memutar kembali kisah celana
yang dijahit dengan getar jemari ibu
di salah satu sakunya pernah dia sembunyikan
sesuatu sepenuh debar
terus mendebar
tapi belum juga ia sanggup
membaca hangat denting fajar
dan malam pun tak ingin bersedih
(1 des 2008)
Senin, Desember 01, 2008
Belum Juga Sanggup
Langgan:
Poskan Komentar (Atom)
0 komentar:
Poskan Komentar