: TSP
entah apa yang bisa kubawa sebagai oleh-oleh. jika nanti aku singgah. tak ada temali untuk mengaitkan badan kita pada bilah gelagar. buat berjaga-jaga bila angin meniupkan debu ke mata kita. juga tak ada parasut dan pelampung. hanya ada luka pertengkaran yang hampir mengering. untuk mengingatkan kita pada kelam silam. agar kita bersabar meniti waktu. mengarung musim yang semakin jalang.
di gelagar itu. tidak ada menu yang kausuguhkan, selain cinta dan benci. jadi terserah kita mau menyantap yang mana lebih dulu. sering-sering atau sekali-sekali. agar lidah kita tetap berfungsi sebagaimana mestinya. sebab sesuatu yang monoton tentu menjemukan, bukan? membuat kita lupa pada rasa yang lain.
di sini, aku masih menyiapkan serantang kata-kata dan juga mimpi. sebagai bekal kita merenda puisi. mengusir sepi yang mengintai di ujung gelagar. tapi aku tak yakin itu cukup untuk mengawal kita. sebab perjalanan begitu tajam dan mungkin juga bertele-tele. sudahkah kau siapkan perapian? untuk menghangatkan mimpi-mimpi yang hampir basi. sehingga kita tetap berselera. mengunyah menu yang itu-itu juga. (11 Maret 2008)
Rabu, Maret 12, 2008
Menjelang Pertemuan
Label:
poems
Jumat, Maret 07, 2008
Luka di Atas Luka
Setelah ribuan resah kauumbar sepanjang musim
Jari-jarimu tak henti menggoreskan grafiti rindu
Memanggil mata setiap pejalan melempar arah
Seolah nasib adalah umpan di ujung kail
Sementara rindu belum juga tuntas di genggaman
Kenangan hitam itu, tak lelah kau merawatnya
Menjadi batu sandungan di jalan masa depan
Bila jurang menganga di tepian waktu
Telah kaupastikan sebagai kematian nasib
Berhentilah meracau tentang pertemuan
Bukankah cinta kekar dan kekal tumbuh dari cadas jalan?
Sedang kau tahu
Aku membawa segudang luka perjalanan
(6 Maret 2008)
Label:
poems
Langgan:
Entri (Atom)