Di tanah sendiri, kami kehilangan kiblat. Maju atau mundur, ke kiri atau ke kanan, nafas kami semakin sesak. Televisi, satu-satunya kompas yang kami punya, tak henti mengajak kami ke mal dan kamar pribadi tetangga. Hingga kami terhipnotis keindahan etalase dan nikmatnya keremangan. Kami lupa membeli peta untuk membaca hari esok. Kami lupa jalan kembali.
Seharusnya ini tidak terjadi, jika kami mau berbagi peran. Sayangnya, kami sangat percaya diri, sehingga selalu meminta beban melebihi daya kami. Kami beli semua televisi, lalu kami tempel gambar kami di sana. Agar seluruh warga kami percaya betapa mulia niat kami. Hanya dengan melihat sorban atau peci kami. Atau tampang kami yang innocent.
Begitulah watak kami. Kami serahkan seluruh nasib kami pada peci atau sorban dan wajah. Tak pernah kami sadari, di dalam peci dan sorban itu, ada binatang pengerat, yang mengintai tali gantungan nasib kami setiap saat. Juga tak pernah kami pahami, di balik wajah itu, ribuan rupa menuntut pemerah bibir, uang jajan, asap dapur, dan penyegar mata. (22 April 2008).
Selasa, April 22, 2008
Kami Lupa Membeli Peta
Jumat, April 18, 2008
Kaugambar Wajahku
:Hasan Aspahani
Mungkin telah kaularung peluh
Pada cadas bukit dan badai lautan
Hingga kautemui benih-benih sajak begitu mawar
Lincah jemarimu merekam tawa dan tangis
Serupa kembaran kaugambar kata-kata
Kadang ku tersenyum geli
Karena kaudandani baris dengan lucu
Tanpa kusadari perangkapmu
Menjadikan aku pesakitan
Menertawai diri sendiri
Di penghujung sajakmu
Terdampar aku di sebuah danau
Di bening permukaannya
Kutemukan wajahku yang asli
(18 April 2008)
Muhasabah
Biar tapak kaki tak mengaduh
Lalu kita mulai menghitung keluh
Sejauh mana mengalir peluh?
Jalan ini mungkin terlalu setapak
Ke mana melangkah, berduri bersemak
Bait-bait yang terbajak, tak kunjung jadi sajak
Banyak sampiran, makna jadi retak
Sambil selonjor kita pandang luas langit
Tak mungkin digapai agar sajak bisa dianggit
Maka mari kita hitunglah peluh
Sejauh mana memabasahi keluh?
(17 April 2008)
Jumat, April 11, 2008
Jumat Suatu Ketika
di lapang gerbang rumahmu. tengadah kotak kami, nyalakan sekeping senyum. mata kami cekung, entah ke mana harus berkiblat. tak lagi peduli mengapa kami hadir di sini. selimut kami selalu terbaca iblis, yang menyemai ragu ke setiap hati. hingga redup api yang baru saja kuncup.
di pinggir jalan. senyum kami berdebu, setia mengerami nasib. puisi yang mungkin tak seberapa, tapi selalu kami puja sebagai hari esok. suara adzan bertalu-talu, tak membuyar khusyuk kami. menyimak setiap deru klakson bertikai. karena kami yakin, di sana ada sumbu bagi terang senyum kami.
di dalam megahluas rumahmu, gerah wajah kami memelas. di antara pembicaraan kami tentang jalan langit. jalan yang terus berdebu oleh malas kami. atau terkikis oleh angkuh kami. pembicaraan yang kian lama kian melankolik, pengantar tidur di sela iman dan nafsu kami. (11 April 2008)
Sabtu, April 05, 2008
Kubuntu
Di kepalaku kini, entah kenapa, tak ada jalan menuju ke luar. Tak ada jalan setapak yang senantiasa mencatat lecet kaki kita. Sepanjang pandangan, melulu tembok tanpa celah, sedang di atasnya angkuh bertengger berlapis kawat berduri. Tak ada tangga atau semacam kayu untuk melintasinya.
Mungkin kau bisa datang. Barangkali dari luar sana, kau bisa melihat jalan menuju kemari. Mungkin ada celah yang terlihat di sana sehingga kita bisa bersitatap dan bicara. Tentang lembar yang kuyup oleh genangan kecewa.
Datanglah apa adanya. Tak perlu ada persiapan Di sini kusiapkan buku lama. Untuk kita hapus semua isinya. Sejarah yang tak perlu ditengok lagi. Selamanya.
(4 April 2008)