Musim, hanya ada satu di negeri kami
Musim hujan yang airnya bersumber dari
Mendung di belulang dan ceruk mata kami
Meluap ke seluruh negeri
Mengetuk-ngetuk pintu rapat terkunci
Hendak membasuh hati yang hampir mati
Musim hujan adalah musim kawin
Kodok-kodok beranak pinak dengan pesat
Berlompatan dengan riang
Mendekati teratai yang memesona mata
Air seni dan remah syahwat
Melegam pada akar dan batang
Semakin deras hujan
Semakin kodok sukacita
Bumi ditindas melompatlah mereka
Menebas kiri dan kanan
Melompatlah mereka menjilat langit
Menumpahkan hujan
Dari belulang dan ceruk mata kami
Abadi keringat dan air mata kami
Merawat hujan bermusim-musim
Kodok-kodok hidup damai sejahtera
Tak pernah tahu dari mana air tumpah ruah
(15 okt 2008)
Rabu, Oktober 15, 2008
Negeri Kodok
Senin, Oktober 13, 2008
Kupu-kupu dalam Larik Kita
Dulu sekali, di sebuah kebun, kita pernah menulis sajak sederhana, tentang sepasang kupu-kupu, yang saling mencinta, sehidup semati. Kupu-kupu itu lalu terbang menjauh. Mematahkan larik-larik yang belum sempurna. Meninggalkan kata-kata yang bisu. Meninggalkan kita yang diam. Dan tanpa sadar, kita pun sampai di pinggir sebuah kali.
Sejak itu, setiap kali kita menulis sajak, di pinggir kali itu, selalu terbayang kupu-kupu itu. Dan kita kembali menuliskannya. Lalu terbanglah mereka, seperti dulu, meninggalkan kata-kata yang diam, yang kian menumpuk. Meninggalkan kita yang bisu, kian terbuai waktu yang lapuk.
Demikian berkali-kali. Sampai kita menyadari. Ada satu kata yang lupa kita tuliskan. Kata yang membuat kupu-kupu itu terbang menjauh: bunga.
Lalu kita memilih mawar untuk melengkapi larik-larik itu. Dan seketika kupu-kupu itu menjelma di bait-bait berikutnya. Di sajak-sajak selanjutnya. Tapi kita lalai menempatkan duri, hingga kupu-kupu itu berangsur lenyap dari sajak kita. Akhirnya kita sepakat mengambil jeda.
: mengubah larik atau membuat sajak baru
(13 Okt 2008)
Kamis, Oktober 09, 2008
Akrofobia
:kepada bukit
aku tak ingin sampai di kepalamu
bukan karena takut menggelinding
di tubir yang deras dan keras
mengupas kemapanan
kulit yang tak seberapa tebal
aku tak ingin sampai di kepalamu
bukan karena di lereng seberang
tebing menetaskan maut yang buas
dalam arus kelaparan
sulit bertahan walau setebal kebal
aku tak ingin sampai di kepalamu
karena tak ingin melahirkan maut
dari bebatuan yang terkirim oleh kaki
atau racun air seni yang tak terwadahi
aku tak ingin sampai di kepalamu
karena tak ingin bila jatuh
melindas jiwa-jiwa letih tertatih
yang merangsek bersandar di bahumu
aku tak ingin sampai di kepalamu
hingga tak ada yang penuh tipu
hingga tak ada yang berjibaku
menuju kepalamu
(9 Okt 2008)
Rabu, Oktober 08, 2008
Dia (Tak) Ingin
Dia ingin menjadi handphone
Yang setia membangunkan
Ketika kau larut dalam mimpi
Yang ikhlas mengabarkan
Sukaduka darimu, untukmu
Dia ingin menjadi handphone
Yang selalu kautemani
Kemana pun pergi
Bahkan ketika nongkrong
Di atas kakus
Masih terus kauelus
Sehingga ia bisa selalu merasakan
Cintamu yang siang
Cemburumu yang malam
Tapi dia tak ingin menjadi handphone
Yang selalu kautinggal sendiri
Dalam laci atau saku di balik pintu
Lalu kau bertukar peluh dengan kekasih tiri
Di atas ranjang yang tak henti meratap
Karena takdir harus menerima rebahmu
Sungguh dia tak ingin menjadi handphone
Yang selalu kaupaksa menyaksikan
Dan menyimpannya sebagai kenangan
Gairah kalian yang paling purba
Di malam-malam yang enggan berlalu
(8 oktober 2008)
Senin, Oktober 06, 2008
Missed Call
Ketika Tuhan memanggil
Jemariku terus saja menari
Di atas papan kunci handphone
Melayani game yang seru
Tunggu, ya, lagi tanggung
Ketika Tuhan memanggil
Download ini belum selesai
Tanggung ditinggalkan
Biaya bisa mengamuk
Sebentar, masih ada waktu
Ketika Tuhan memanggil
Kekasihku sedang curhat
Tak tega memutuskannya
Hari gene, susah cari pacar
Sabar ya, Tuhan
Ketika Tuhan memanggil
Tak ada kesibukan
Kubiarkan Ia terus memanggil
Agar kutahu sejauh mana
Ia bersabar menungguku
Ketika Tuhan memanggil
Jemariku tak mampu lagi menari
Biaya oksigen mencekik leher
Dan pacar tak lagi mengenali
Dan Tuhan terus saja memanggil
Dengan sabar dengan syahdu
Dari celah yang kian redup
(6 Oktober 2008)