Kami lahir dari kentut tuan
Kian anggara di halaman
Menyelinap ke seluruh nafas
Memacakkan ribuan tunas
Kelak kami menjadi rimba
Menjadi sangkar sunyi
Dan di dalamnya, kau kehilangan suara
(24 nop 2008)
Senin, November 24, 2008
Kredo Ilalang
Terbelah Musim
: dedy, steven
kisah tua ini adalah rindu sahaja kanak-kanak kita
ketika kata-kata masih bersama berceloteh-ria
ketika kita bentang seutas tali agar merdu nada suara
adakah sesuatau tersembunyi di lidah dan kuping kita?
tapi waktu tak pernah bisa kita minta berjalan pelan
agar kita sempat membesarkan bunga di halaman
agar kelak ransel kita mengembang sepenuh asa
menuntun perjalanan tanpa marah dan luka
maka waktu berjalan sendiri menyeret silang langkah
hingga kita pun terbelah musim, tercerai dinding arah
engkau menyimpan beribu kartu tanpa ada nama kami
seperti pisau, yang mengakhiri tunas-tunas mimpi
(24 nop 2008)
Jumat, November 21, 2008
Tiga Kiblat Jumat
1/ Pengemis
di lapang gerbang rumah-Mu. tengadah kotak kami. nyalakan sekeping senyum. mata kami cekung. entah ke mana harus berkiblat. tak lagi peduli mengapa kami hadir di sini. selimut kami selalu terbaca iblis. yang menyemai ragu ke setiap hati. hingga redup api yang baru saja kuncup.
2/ Pedagang Kaki Lima
di pinggir jalan. senyum kami berdebu. setia mengerami nasib. puisi yang mungkin tak seberapa. tapi selalu kami puja sebagai hari esok. suara adzan bertalu-talu. tak membuyar khusyuk kami. menyimak setiap deru klakson bertikai. karena kami yakin, di sana ada sumbu. bagi terang senyum kami.
3/ Majelis Jumat
di dalam megahluas rumah-Mu. gerah wajah kami memelas. di antara pembicaraan kami. tentang jalan langit. jalan yang terus berdebu oleh malas kami. terkikis oleh angkuh kami. pembicaraan yang kian lama kian melankolik. pengantar tidur di sela iman dan nafsu kami.
(11 April - 21 nop 2008)
Seperti Mimpi
Kuarungi dingin samudera sunyi
Kutapaki jalan duri dan tak pasti
Hanya untuk mendengarmu bernyanyi:
Bangunlah, kau hanya bermimpi
(21 nop 2008)
Stanza Kemarau
Daun-daun berpamitan ketika kemarau bertamu
Mereka sudah mengerti, pohon perlu juga dipijat
Biar beralih lelah semusim dan rindu kembali muda
Kelak daun-daun berbakti menunaikan cinta abadi
Mendekap gairah akar dari mana rindu bermula
Menahan amuk angin yang terus mabuk asmara
(21 nop2008)
Pesan Pendek
Seseorang tiba-tiba hadir di handphone-ku
Menggedor-gedor dari balik layar
keluarkan aku,
terlalu banyak nama di sini!
Dan aku hanya terdiam
Tak segera membuka pintu
Kenangan itu
(21 nop 2008)
Menunggu Pagi
:steven, benz
Lantai kami serapuh kertas, leleh oleh tangis musim
Ke mana kaki menghentak mengusir kejang ini
Tak ada tilam untuk menidurkan gejolak risau
Tentang pagi yang tersekap dalam botol-botol pesta
Sedang jaket kami hanyalah rerimbun puisi renta
Tiada kuasa menahan gempuran dingin panggung
Dan kabel listrik itu seolah tak ingin melepas malam
Dengan apalagi kami memutus ini gelang besi?
Cukuplah kauhirup semangkuk sepi, hai, penjaga malam
Dan longgarkan sedikit paku yang mengunci hati
Niscaya kuyuplah karpet karena deras airmata
O, betapa dingin sepi, betapa malam enggan menepi
(21 nop 2008)
Kamis, November 20, 2008
Di Ruang Mahkamah
:hah, benz, steven
Tibalah kita di mahkamah ini
dengan tetes darah, utas tambang,
dan remah-remah semangka
sebagai barang bukti
Cepatlah tuntas misteri ini
sebab ia adalah tembok penghalang
seperti tentara yang menodong
sebelum jalan yang luas-lapang
Tapi mengapa begitu nyaring tawa?
sepertinya kau sedang bermain sirkus
dan kami hanya bisa patuh pada mata
tersenyum pada wajah sendiri
Darah ini kau alirkan sendiri, katamu
tapi engkau yang mencecap semangka itu
setelah gemetar tangan kami membelahnya
Dan luka itu seperti gigitan kepiting, katamu
Tapi leher kami sangat mengenali tambang itu
yang kaucabut dari balik jaket badutmu
Sudahlah! Kau membentak keras
tandatangani formulir ini!
lalu pada lembar penutup kisah
kami bubuhkan darah segar
(20 nop 2008)
Rabu, November 19, 2008
Kepada Pemilik Poster
:steven, benz, hah, tsp
lampu petromak kami kehilangan minyak
lesap ke dalam poster yang lama ia tunggui
di gerbang setinggi harapan di dada kami
atau ia nyelinap di balik belahan daster itu?
maka sepeda tak lagi mampu menuntun ke rumahmu
seperti sampan di deras arus kehabisan dayung
keringat dan abu dapur kami sama hitam, lunglai
sebelum pintu yang kuncinya kausembunyikan
kami hanya ingin membaca di rak bukumu
sebab kami lupa apakah pernah menitip puisi
tentang topi dan sekolah kami yang sama lusuh
atau mungkin engkau tiada sempat membaca
ini gunting kami, menyala selebar nyali
biar kami lepas sendiri itu puisi
agar pulas tidurmu menggapai mimpi
dan tidur bocah-bocah kami memeluk sunyi
(19 nop 2008)
Selasa, November 18, 2008
Antara Puisi, Sepi, dan Airmata
Entah siapa yang lebih dulu
jatuh cinta pada puisi
sepi atau air mata, tak jadi soal
sebab puisi punya rasa sendiri
punya cara tersendiri untuk tahu
siapa yang benar-benar mencintainya
*
Tanpa sepengetahuan air mata,
diam-diam, sepi bermanuver
ia buntuti ke mana pun puisi pergi
ia ingin tahu kesukaan puisi,
agar kelak ia bisa tawarkan
sesuatu yang menarik bagi puisi
dari berhari-hari pengamatannya,
ia sampai pada kesimpulan bahwa
puisi menyukai sesuatu yang baru,
sesuatu yang segar
maka ia pun mulai merawat diri, memoles diri,
agar tampak semakin segar,
semakin baru, semakin sepi
*
Tiba-tiba puisi merasa begitu bergairah
entah angin apa yang memeluknya
sekelilingnya serasa begitu indah
mungkin ia sedang jatuh cinta
tapi kepada siapa? tak ada sesiapa di situ
mungkinkah ia merasakan kehadiran
sepi yang semakin segar itu?
yang sepasang matanya tak henti
mengawasi gerak-gerik puisi
*
Pada waktu yang sama, diam-diam,
tanpa sepengetahuan sepi,
air mata juga beraksi
ia mengendap-endap dari dalam mata puisi
coba melihat apa yang dilakukan puisi,
agar kelak bisa memberi sesuatu
yang menarik bagi puisi
Pada akhirnya ia sampai pada temuan
puisi menyukai sesuatu yang tajam
sesuatu yang bisa menikam jantungnya,
yang menyentuh nuraninya
maka airmata kemudian menyimpan
dan senantiasa membawa belati
kelak jika puisi perlu,
maka ia akan tikamkan cintanya,
tepat ke tengah jantung puisi.
*
Tiba-tiba puisi begitu bergairah
entah kabar apa yang hinggap di telinganya
mungkin sesuatu sedang menikam jantungnya,
menyentuh nuraninya.
tapi apa? tak ada sesiapa di situ.
selain sesuatu yang menggenang,
membuncah di sudut matanya.
*
Entah siapa yang duluan jatuh cinta pada puisi,
sepi atau airmata
tapi tanpa sepi, bisakah airmata mencintai puisi?
lalu tanpa air mata, bisakah sepi mencintai puisi?
dan tanpa puisi, sepi dan airmata bisa jadi apa?
Kepada Sepi
Jangan usai menemaniku
Sebab hanya denganmu
Aku bisa terus menderu
Merawat denyut di dadaku
Teruslah membara, wahai sepi
Hangatkan ragu di ujung jemari
Biar degupnya terus meninggi
Hingga pecah menjadi puisi
(18 nop 2008)
Sampai di Mana Sepimu ?
:dino umahuk
Sampai di mana sepimu memuja lautan?
Hingga berbuih penamu menuliskan rindu
Hingga tak ada kata selain gairah ombak
Menukik ke jantung puisimu
Padahal kau tahu betapa sesaknya
Tenggelam dalam riuh pelabuhan
Kapal-kapal datang membongkar lelah
Dan ia tak peduli, itu kau atau bukan!
Kamis, November 13, 2008
Tak Seindah Puisi
Pergilah
Demi tumbuh kata yang sehat
Lalu aku pamit pergi di sebuah pagi
Berselempang pisau dan bara
Membabat ragu membakar gentar
Menyemai huruf menyiram kata
Agar kelak merimbun puisi
Pengganjal sepi yang lapar
Kini aku kembali di siang terik
Tapi tak ada sesuatu puisi
Hanya peluh yang asing
Menarikan desah di layar biru
Di handphone kanakkanak kita
Aku tak ingat petuah infotainment
Aku lalai membaca musim
Aku pasti lelah. Aku pasti remuk
Jika hatimu tak sebening doa
Rebahlah.
Kerikil ini membuat kita paham
Cinta tak semudah dipuisikan
(13 nop 2008)
Rabu, November 12, 2008
Di Bola Matamu
:*interpretasi sebuah lukisan bergambar mata
Resah angin
Musim gugur
Menghapus jejak
Bulir dingin
Pelan mengalir
Di tepi kelopak
Tatapanmu hampa
Menunggu masa
Mengantar bara
Membakar segala
Menjadi duka
Yang nganga
(12 nop 2008)
Selasa, November 11, 2008
Membaca Sajak
Selami kata-kata
Dari mana hulu
Ke mana hilir
Di mana
Kau hanyut?
Bukan aku
Yang menulis
Bukan kau
Yang membaca
Tapi Dia
Yang bersajak!
(11 nop 2008)
Senin, November 10, 2008
[Soneta] Tentang Kita
:telimpuh
Ada kabut-kesah tumpah di halaman komik
Menghambur jadi tarian ikan-ikan lapar
Menggeleparlah semua ragu yang tercabik
Masihkah ada rindu terdampar –atau menampar?
Ikan-ikan -yang telah kenyang itu- kini beranak pinak
Menjadi kata-kata yang begitu asing bahkan dalam mimpi
Maka kau dekap setiap kata yang jinak, rahasia yang jejak
Lalu jadilah semacam panduan ke mana rasa mesti menepi
Aih, malaikat menjaga kita dari kebobolan, ragu yang buas
Sebab tiada lagi yang mesti dicatat di luas haribaan kanvas
Selain jejak bola yang mental-mantul dari paus ke puas
Tapi kita seperti tak jera ditampar–gambar rindu
Masih saja ada kata yang kita tak ingin jadi residu
Merentang dari silam masa menjadi segenggam candu
(10 Nop 2008)
Jumat, November 07, 2008
[Soneta] Pohon dan Daun
Kita sepakat kembali memulai hari baru
Bahwa kehilangan tak semestinya tancapkan ragu
Semestinya ia jadi harapan akan esok yang terang
Katamu, setiap kali angin mengajakmu terbang
Tapi bukankah hilang itu begitu sepi
Dan ia telah membiarkan aku sendiri
Dihantam rindu tak berkesudahan
Sejak engkau tinggalkan dahan
Lalu kucoba mencintai selain dirimu
Tunas-tunas daun yang masih lugu
Seperti dirimu, saat pertama aku meraihmu
Lalu kau yang telah berubah coklat
Lewat akar, mengirim rindu yang pekat
Kucium aroma tubuhmu pada daun-daun melebat
(7 nop 2008)
[Soneta] Lokomotif
:hasan aspahani
Aku menduga-duga di balik alunan jazz itu
Mungkin tak ada sesiapa menemanimu
Selain sepi yang liar menikamkan ragu
Di setiap lekuk dan garis sajakmu
Sementara gerbong-gerbong yang kauhela
Beberapa anjlok ditelikung sang kala
Korban terkapar tak berbilang kata
Di pelukan penyair sajak-sajak mati muda
Kau tetap dan terus melaju
Menembus malam hampir beku
Stasiun mana yang kau tuju
Ku ingin menyusul mengusir sepi itu
Tapi penjaga loket mungkin salah memberiku
Tiket tanpa nama stasiun, arah mana kutuju
(7 nop 2008)
Kamis, November 06, 2008
Menu Harian
Inilah menu harian paling laris
Lewat televisi yang tanpa henti
Menebar bahaya laten kemalasan
Merasuk ke setiap denyut handphone
Nikmatilah gairahnya
Olahan koki-koki rupawan
Teguklah gelegarnya
Maka kau akan hidup selamanya
Ketiklah reg spasi abc
kirim ke nomor sekian
dan menangkanlah ratusan milyar
keringat pulsa yang kau teteskan sendiri
mungkin surga memang tak ada
hingga agama pun sembunyi
dalam tabung televisi
ketiklah reg spasi agama
dan kirim ke tuhan
maka kau akan paham
bagaimana hidup penuh bahagia
teruslah nikmati
teruslah cumbui
teruslah jamahi
teruslah, teruslah
maka kau akan hidup abadi
selamanya dalam mimpi
dalam iming-iming sms
(6 nop 2008)
Minggu, November 02, 2008
Requiem Handphone
Di ubun-ubun malam yang kedap
Ketika tangan tuan telah lelap
Dusta itu mungkin begitu mencintaiku
Hingga selalu datang dengan kehangatan
Dengan senyum menggairahkan
Tanpa peduli tempat dan waktu
Khusyuk ia bersedekap
Ada gelisah ingin diungkap
Adakah sungai mendengar di malam lirih?
Akan kutumpahkan ini kantung hujan
Biar mengalir segala repih perih
Karena takdir terlahir sebagai handphone
Kerap ia kirim ragam kebohongan
Meski nada gemeretak menahan hujan
Mestinya kuungkap kasih sayang
Agar mulia cita-cita semula
Namun syahwat selalu mengganyang
Bohong pun telah menjadi formula
Perempuan-perempuan itu menanti ketegasan
Bukan janj-janji yang cengengesan
Terlambat pulang karena rapat mendadak
Alasan yang sering kukirim ke dada bini tuan
Padahal di dalam kamar rapat terpasak
Selembar rok mini minta birahi segera dikirim tuan
Masihkah kaupunya nurani
Mengaku secara berani
Sementara bocah-bocah lucu itu
Kian mengerti arti janji-janji tuan
Hari sabtu atau pun minggu
Jalan-jalan bersama hanyalah igauan
(2 nop 2008)